Jakarta, CNN Indonesia --
Kepala Departemen Politik dan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes mengatakan reshuffle kabinet akan sering terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Arya menyebut reshuffle yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto itu hanya untuk memperkuat dukungan partai koalisi dan para relawan.
"Jadi ke depan kita akan lihat bahwa reshuffle akan sering terjadi. Dan umumnya dilakukan untuk menguatkan dukungan politik kepada Presiden," kata Arya dalam diskusi membahas isu reshuffle kabinet, Senin (4/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arya mengaku hingga saat ini belum melihat kocok ulang kabinet oleh Prabowo untuk memperkuat kinerja pemerintah. Pola itu juga terjadi pada masa pemerintahan sebelumnya.
"Dan jarang sekali kita temui reshuffle ditujukan untuk tujuan kinerja pemerintahan. Jadi kalau pun reshuffle hampir pasti, kita akan melihat itu ditujukan untuk kalkulasi politik," ujarnya.
Sejauh ini, kata Arya, Prabowo telah lima kali melakukan reshuffle dalam 1,5 tahun pemerintahannya dengan lebih dari 25 orang menteri atau pejabat eksekutif yang telah diganti atau ditambah. Dari total jumlah kabinet, posisi wakil menteri yang paling banyak diisi politikus dari partai pendukung.
Kata Arya, posisi itu berbeda dengan masa pemerintahan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kala itu, posisi wakil menteri justru diisi kalangan profesional dan non-partai.
Menurut Arya, melihat jumlah reshuffle tersebut, Presiden masih mencari pola ideal kabinet. Padahal, mestinya pola itu sudah ditemukan karena pemerintahan telah berjalan dua tahun.
Kedua, boleh jadi reshuffle terjadi karena peran faksi-faksi di sekitar Presiden. Kondisi itu, kata Arya, menunjukkan gejala yang kuat dalam beberapa waktu belakangan.
"Dan ini menunjukkan gejala yang cukup kuat dalam beberapa waktu belakangan ini," ujar dia.
Lebih lanjut, Arya mengatakan Prabowo juga masih memiliki pekerjaan rumah untuk mempertahankan approval rating atau kepuasan publik terhadap dirinya.
Menurut Arya, sejauh ini approval rating masih akan menentukan soliditas koalisi menjelang pemilu.
"Dan tingkat elektabilitas dan kepuasan akan akan menentukan positioning partai. Jadi bisa saja partai-partai akan menarik diri dari pemerintahan kalau misalnya approval rating dan elektabilitas itu turun," kata Arya
Prabowo kembali melakukan reshuffle kabinet pada Senin 27 April lalu. Dalam reshuffle terakhir atau yang kelima, Prabowo melantik enam pejabat baru di lingkungan kementerian dan lembaga.
Sebagian merupakan orang lama yang mendapat tugas baru, dan sisanya adalah orang yang baru ditunjuk Presiden. Pelantikan digelar di Istana Kepresidenan, Jakarta yang dihadiri sejumlah menteri lain dari kabinet Merah Putih.
(thr/fra)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
4
















































