Kawal Gugatan UU TNI di MK, BEM UI Tolak Kebangkitan Negara Militer

4 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama koalisi masyarakat sipil menggelar aksi solidaritas di Mahkamah Konstitusi (MK) untuk mengawal uji materi Undang-undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI.

Ketua BEM UI, Yatalatof Imawan mengatakan MK harus berani mengambil sikap tanpa gentar terhadap bayang-bayang intervensi kekuasaan dalam menangani gugatan UU TNI.

"Kita mengawal dan juga ingin memberi pesan kepada MK sendiri bahwa MK jangan takut terhadap tekanan apapun. Apalagi di sini kita dihadapkan negara menuju otoritarian," kata Yatalatof di kawasan MK, Jakarta Pusat, Rabu (8/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BEM UI menggelar aksi ini juga sebagai bentuk solidaritas untuk Wakill Koordinator KontraS Andrie Yunus, korban teror penyiraman air keras yang kini tengah memperjuangkan keadilan melalui jalur judicial review terkait Pasal 47 UU TNI.

Menurut Yatalatof, jika gugatan tersebut dikabulkan akan menjadi kunci penting untuk memutus rantai impunitas, sehingga aparat yang bermasalah tidak lagi berlindung di balik tertutupnya sistem peradilan militer.

"Karena jika MK ini mengabulkan judicial review yang diajukan oleh Andrie Yunus salah satunya, maka setiap kriminalisasi yang dilakukan oleh TNI kepada sipil akan diadili di peradilan umum, bukan di peradilan militer yang sangat tertutup dan tidak transparan," ujarnya.

Yatalatof menegaskan komitmen mahasiswa untuk melipatgandakan kekuatan massa untuk mencegah Indonesia kembali menjadi negara militer yang otoritarian.

"Maka kita akan melakukan gerakan yang lebih besar untuk menahan agar negara ini tidak menjadi negara militer, negara otoritarian, yang di mana tidak melindungi rakyatnya sendiri," ujarnya.

Kekhawatiran menguatnya represi negara juga disuarakan oleh perwakilan Serikat Tahanan Politik Indonesia, Khariq Anhar, yang turut hadir bersolidaritas.

Khariqmengatakan ruang-ruang kebebasan sipil saat ini semakin menyempit, terbukti dari maraknya intimidasi fisik hingga teror digital para aktivis.

"Ketidakamanan ini juga kami rasakan ketika bahkan dalam perbincangan WhatsApp grup pribadi kawan-kawan kita saja itu bisa terkena doxing. Informasi-informasi itu dibocorkan begitu saja sehingga kami merasakan tidak ada keamanan sama sekali," ujarnya.

"Bahkan untuk melakukan postingan misalnya ajakan diskusi saja, itu bahkan, mohon maaf, saya selalu ditelepon oleh intelijen," sambung Khariq.

(fra/kna/fra)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
International | Politik|